Tuesday, December 23, 2003

Good day my sist
Masuklah ke dalam api Namrudz
tanpa rasa takut
Bila imanmu seperti Ibrahim
api takkan membakar
dan sebaliknya berubah menjadi taman
(Iqbal)
Zaman pemberontakan. Seorang pendeta, ahli hukum, dan engineer ditangkap, dan dijatuhi hukuman mati dengan guillotine.

Tibalah saat pelaksanaan hukuman mati. Setelah diundi, pendeta harus mati lebih dulu, disusul ahli hukum, dan terakhir si engineer.

Pendeta meletakkan leher di balok guillotine. Tuas dilepas. Tapi pisau bergeming. Si pendeta berdiri dan mengatakan ia telah diselamatkan oleh Tuhan. Ia pun dibiarkan pergi.

Giliran si ahli hukum dipaksa meletakkan leher di balok. Tuas dilepas. Tapi pisau maih terdiam saja. Si ahli hukum berdiri dan mengatakan bahwa seorang tersangka hanya boleh dihukum satu kali untuk sebuah kesalahan. Maka ia pun boleh pergi.

Terakhir, si engineer meletakkan kepalanya di leher balok. Ia mengintip ke arah pemicu katrol. Lalu ia berkata, "Tunggu. Sekarang aku tahu kenapa alatnya macet ...."

Wednesday, December 17, 2003


This is a collection of seven related lectures by Hawking originally published in 1996 under the title, The Cambridge Lectures: Life Works. He does not cover as much ground here as in did in A Brief History of Time, but what he does cover he does so in a charming and engaging style. There are some few statements here that could be interpreted as less than modest--although not by me--and a mistaken prediction or two, which may be a reason that Hawking is not pleased with this book's publication. He might also object to the title, since neither a "Theory of Everything" nor a conclusive answer to the origin and fate of the universe are presented.

However, Hawking does address these questions, and his expression is interesting to read and has the agreeable characteristic of being laconic. There are no equations in the book, no mathematics as such, and everything is explained in language that would be intelligible to a high school student. There are the usual droll Hawking jokes about God and His intentions, facetious, epigram-like understatements (I have done a lot of work on black holes, and it would all be wasted if it turned out that black holes do not exist. p. 66) and witty asides about the convergence of politics on physics, as when he mentions a particle accelerator the size of the Solar System that "would not be funded under current economic conditions."

A good chunk of the book is devoted to black holes (about which Hawking is or was the world's foremost authority) and whether they have "hair" and "sweat" or not. Hawking avers on page 92 that if a primordial black hole is discovered "emitting a lot of gamma and X rays," he will get the Nobel Prize. This is an ironic lament since, as he explains later on, it is most likely that even if these very difficult to observe and very ancient black holes do exist, they are mostly evaporated by now, and so it is probable there will be no Nobel for Hawking.

He also discusses a "no boundary condition" (p.119) of the big bang universe which seems to begin and end in a singularity in real-time while in imaginary time there are no singularities, just beginning and ending poles, like the north and south poles of the finite, unbounded surface of the earth. (p. 139) I especially like this idea since it does away with the infinite singularity and the theological implications that some draw from such a beginning of the universe. As Hawking asks rhetorically, in a "completely self-contained" universe with no boundary or edge--a universe "neither created nor destroyed"--what place would there be for a creator? (p. 126)

He also addresses string theory, and I was pleased to read that he is no more enamored of all those little curled up dimensions than I am. He says the theory has several other problems that need to be worked out, not the least of which is that we still don't know whether all the infinities will cancel out. (p. 159)

Hawking closes with his ideas about the prospect for a Theory of Everything. He gives three possibilities: (1) There is a "complete unified theory which we will someday discover..." (2) There's no ultimate theory, "just an infinite sequence of theories that describe the universe more and more accurately." (3) There's no theory, period: "Events...occur in a random and arbitrary manner." He seems to like (1) believing "that there is a good chance...[for] a complete unified theory by the end of the century..." Apparently--since he is speaking from circa 1996--he means the twentieth century. In that case he's wrong since we haven't yet gotten such a theory.

For the record, I like (2). I think that our present "laws" are approximations that we will continue to improve on. I believe we develop the ability through science to better and better order our environment and to increase our knowledge. I don't believe we are actually discovering "ultimate truth."

Hawking asks here as he has elsewhere, "Why does the universe go to all the bother of existing?" Why is there anything at all? He believes that if we do discover a complete theory, we will then be able to answer this question, and then we would "know the mind of God."

Tuesday, December 16, 2003

Waktu

Waktu, definisi. Bentar, nggak ada ensiklopedi di meja ini. Coba dari yang simpel dulu. Satu hari itu satu kali putaran bumi. Satu jam itu satu kali putaran jarum panjang. Satu detik itu sekian kali periode getar cahaya yang ditimbulkan oleh atom tertentu. Jadi kita lihat, waktu selalu didefinisikan melalui materi yang bergerak. Atau lebih luas, waktu didefinisikan sebagai perubahan pada keadaan [termasuk keadaan batin ?]. [Ini sesuai dengan Al- Ashr yang dibawakan Mas Pri: kalau waktu dibiarkan tanpa perubahan pada diri Anda, Anda termasuk orang yang merugi -- Anda tidak berubah dengan berubahnya semesta].

Arah Waktu. Bagaimana kita tahu bahwa waktu itu maju. Ada sunatu-LLAH yang kita namai "Hukum Termodinamika II". Untuk menghindari istilah yang tidak perlu, kita singkat saja bahwa intinya, perubahan pada semesta itu cenderung ke arah ketidakteraturan. Dari yang teratur ke yang tidak teratur dan lebih tidak teratur lagi. Dua zat homogen yang dipertemukan akan cenderung berbaur [tidak teratur]. Pengembalian campuran ke dua zat homogen memerlukan energi eksternal yang prosesnya juga membuat ketidakteraturan bertambah. Kalau gelas utuh jadi pecah, itu wajar. Kalau gelas pecah jadi utuh [tanpa aksi dari luar], itu tidak wajar. Manusia barangkali memang tumbuh jadi lebih utuh dan lebih sempurna. Namun untuk itu diperlukan pengorbanan pada sumberdaya alam yang membuatnya makin tak teratur. Dst. Balik ke ayat di atas, makin terbukti, jika proses pentidakteraturan semesta tidak diimbangi dengan satu pun yang membuat kita lebih baik, kita betul-betul merugi.

Kelekatan waktu pada materi. Pada awal abad ini, Einstein merombak fisika a-la Newton. Dalam sebuah gerak [bentuk sederhana dari perubahan], ada tiga variabel yang saling bergantung: jarak, kecepatan, dan waktu. Menurut Newton, hanya jarak dan kecepatan lah yang bersifat relatif. Namun Einstein membuktikan bahwa ketiga-tiganya bisa bersifat relatif. Lebih lanjut, Einstein [yang didukung dengan matematika yang sudah berubah sejak zaman Newton], menyatakan bahwa bentuk dimensi matematika semesta bisa berubah sesuai dengan materi yang ada di dalamnya. Gerak bumi mengitari matahari [karena 'gravitasi'], adalah karena matematika gerak alami bumi berubah akibat adanya matahari. Juga waktu. Waktu di dekat, misalnya, matahari, berbeda dengan waktu di tempat yang jauh dari mana-mana.

Jadi, waktu bukanlah besaran yang standar dan seragam, melainkan betul- betul melekat di obyek, dan berinteraksi dengan obyek lain. Jadi lucu kalau misalnya malaikat dipaksa menggunakan waktu yang sama dengan kita. Kita-kita saja memiliki waktu yang berbeda. Dan lebih salah lagi menskalakan Al-Khalik dengan waktu. Al-Khalik tidak bergantung pada apa pun.

Kemungkinan mundurnya waktu. Kalau secara fisik waktu bisa mundur, maka semua konsekuensi mundurnya waktu akan terjadi pada semesta. Gelas pecah bisa kembali utuh. Tapi kita sebagai pengamat tidak mengetahuinya. Kenapa ? Soalnya, eh, karena skala waktu kita juga mundur. Pikiran kita juga mundur. Memori yang tersimpan jadi terbuang. Waktu kita lihat gelas utuh, kita tidak menyimpan pengalaman meilhat gelas itu pecah. Itu sunatu-LLAH fisik kita.

Tapi bagaimana dengan yang ghaib. Malaikat, ruh, jiwa kita. Sunatu-LLAH pada yang ghaib tidak dapat kita ketahui, kecuali sedikit saja. Yang pernah saya tulis ke Mas Pri, memang kadang kita amati ada medan spiritual yang berpengaruh pada waktu ke belakang. Saya bukan paranormal, jadi yang saya tulis cuman yang normal-normal. Kalau Mas Pri berdoa agar putra-putri Mas Pri tumbuh sehat, maka doa Mas Pri sebagian telah dikabulkan saat DNA janin putra-putri Mas Pri disusun, nun di masa lalu. Saya kadang masih berdoa untuk sesuatu yang telah terjadi, dan itu masih saya anggap tidak salah. Kekuasaan ALLAH mengatasi waktu, jadi harapan saya boleh kan ikut mengatasi waktu ?

Namun demikian, seandainya waktu bisa diubah sedemikian hingga saya bisa mengulangi hidup saya, Insya ALLAH, saya akan mengulangi hidup saya apa adanya, tepat seperti yang telah terjadi, termasuk kesalahan- kesalahan saya. Dengan nama Ar-Rahman Ar-Rahiim, saya percaya, apa yang telah dan akan terjadi adalah yang terbaik. Adalah sumpah Allah dalam Adh-Dhuha, demi waktu juga, bahwa masa depan lebih baik.

This page is powered by Blogger. Isn't yours?